LAPORAN
HASIL KEGIATAN DI FAKULTAS MIPA (BIOLOGI)
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Diajukan
untuk memenuhi tugas Laporan Studi Kenal Lingkungan Madrasah Aliyah Negeri
Lamongan Tahun Pelajaran 2013/2014

OLEH:
1.
Hermawan M
2.
M. Ardan khusen
3.
Nur Aini
4.
Nur linda Fitri
5.
Nurul Maulidya
6.
Rika Angraeni M
7.
Ulfi Rizqi F
8.
Uliyatur Rosyidah
9.
Brilian Rohkma K
10.
Eriyanti Dian S
11.
Fieka Nur W
12.
Fuad Al Wahyudi
13.
M. Habib Abdu K
14. Niken Ayu K.
15. Nur Imamah F
16. Nur
Octaviana
17. Nurina
Rifdah
18. Nyeliana
19.
Rahayu Indah S
20.
Rizky Bagus P
21.
Reni Agustina
22.
Rohmat Albaihaqi
23.
Siti Fitria A
24.
Yuni Puspita I
25.
Zidni Alfian Barik
KEMENTERIAN
AGAMA
MADRASAH
ALIYAH NEGERI LAMONGAN
JL.
VETERAN NO. 43 LAMONGAN
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Setelah
diadakan pemeriksaan dan perbaikan-perbaikan seperlunya, maka laporan studi
kenal lingkungan yang disusun oleh:
1.
Hermawan M
2.
M. Ardan khusen
3.
Nur Aini
4.
Nur linda Fitri
5.
Nurul Maulidya
6.
Rika Angraeni M
7.
Ulfi Rizqi F
8.
Uliyatur Rosyidah
9.
Brilian Rohkma K
10.
Eriyanti Dian S
11.
Fieka Nur W
12.
Fuad Al Wahyudi
13.
M. Habib Abdu K
14. Niken Ayu K.
15. Nur Imamah F
16. Nur
Octaviana
17. Nurina
Rifdah
18. Nyeliana
19.
Rahayu Indah S
20.
Rizky Bagus P
21.
Reni Agustina
22.
Rohmat Albaihaqi
23.
Siti Fitria A
24.
Yuni Puspita I
25.
Zidni Alfian Barik
Judul
1.
PENGGUNAAN Drosophila
Melanogaster DALAM PRAKTIKUM GENETIKA
2.
TRANSPORTASI PADA TUMBUHAN
3.
UJI
KUALITAS MIKROBIOLOGI BAHAN BERDASARKAN ANGKA LEMPENG TOTAL KOLONI BAKTERI
dapat
dijadikan untuk memenuhi tugas pelaporan studi kenal lingkungan kelas XI
Madrasah Aliyah Negeri Lamongan tahun pelajaran 2013/2014
Lamongan,
Januari 2014
Pembimbing
Studi Kenal Lingkungan
...........................................................
Bu.Siti
Khofilah S.Pd
NIP.
HALAMAN PENGESAHAN
Setelah diadakan pemeriksaan seperlunya,
dan memperhatikan peretujuan pembimbingan laporan studi kenal lingkungan yang
disusun oleh :
1.
Hermawan M
2.
M. Ardan khusen
3.
Nur Aini
4.
Nur linda Fitri
5.
Nurul Maulidya
6.
Rika Angraeni M
7.
Ulfi Rizqi F
8.
Uliyatur Rosyidah
9.
Brilian Rohkma K
10.
Eriyanti Dian S
11.
Fieka Nur W
12.
Fuad Al Wahyudi
13.
M. Habib Abdu K
14. Niken Ayu K.
15. Nur Imamah F
16. Nur
Octaviana
17. Nurina
Rifdah
18. Nyeliana
19.
Rahayu Indah S
20.
Rizky Bagus P
21.
Reni Agustina
22.
Rohmat Albaihaqi
23.
Siti Fitria A
24.
Yuni Puspita I
25.
Zidni Alfian Barik
Judul:
1.
PENGGUNAAN Drosophila
Melanogaster DALAM PRAKTIKUM GENETIKA
2.
TRANSPORTASI PADA TUMBUHAN
3.
UJI
KUALITAS MIKROBIOLOGI BAHAN BERDASARKAN ANGKA LEMPENG TOTAL KOLONI BAKTERI
Dapat dinyatakan memenuhi tugas pelaporan studi
kenal lingkungan kela XI Madrasah Aliyah Negeri Lamongan tahun pelajaran
2013/2014
Lamongan,9
Januari 2014
Kepala
Madrasah
Drs. Ahmad Najikh M.ag
NIP.196111181999031001
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan berkah yang
telah diberikan kepada kami. Terima kasih pula kita ucapkan kepada pembimbing
atas bimbingan yang telah diberikan kepada kami selama penelitian.
Penulis telah menyelesaikan penelitian
UJI KUALITAS MIKROBIOLOGI BAHAN BERDASARKAN ANGKA LEMPENG TOTAL KOLONI BAKTERI.
Hasil penelitian kami sajikan dalam laporan ini. kami berharap laporan ini
dapat menjadi sumber siswa untuk lebih memahami tentang alam sekitar. Akhir
kata, tiada gading yang tak retak, demikian pula dengan laporan ini, masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, saran dan kritik yang sifatnya membangun tetap kami nantikan demi
kesempurnaan laporan ini.
Lamongan, 13 januari 2014
PENYUSUN
LAPORAN
HASIL PRAKTIKUM
A.Judul
PENGGUNAAN Drosophila
Melanogaster DALAM PRAKTIKUM GENETIKA
·
Tujuan praktikum
untuk mengetahui persilangan monohibrid pada Drosophila Melagonaster
· Waktu dan tempat
praktikum
praktikum dilaksanakan pada tanggal 09 januari 2014
dan dilaksanakan di Lab.Genetika UM
·Alat dan Bahan:
-
Kuas
-
Mikroskop
-
Gelas Arloji
-
Jarum
-
Botol biakan
-
Botol Ampul
-
Spons
-
Blender
-
Timbangan
-
Pisau
-
Panci
-
Pengaduk Kayu
-
Selang Plastik
-
Kain Kasa
-
Kompor
·
Proses dan Cara kerja:
1).
Mengampul pupa hitam yang terdapat pada botol biakan untuk masing- masing strain
(satu pupa
dalam satu botol ampul)
2).Setelah
pupa menetes kemudian disilangkan dengan pasanganya ,dalam hal ini persilangan
dilakukan antara ҂N x +b dan resiproknya . Persilangan ini bertujuan untuk mendapatkan F1.
3). Setelah mucul pupa ,maka induk dipindah ke
medium baru.Sebagian pupa (F1) diampul untuk kemudian disilangkan
dengan sesamanya (F1 x F1)
untuk mendapatkan F2 ,sedangkan sebagian yang lainya di biarkan
menetes dibotol persilangan kemudian diamati fenotipnya .
4). Persilangan F2 yang dilakukan
adalah antara F1 x F1
yang memiliki ciri fenotip normal
.
5).Dari F2 yang dihasilkan kemudian diamati fenotip dan dihitung jumlahnya untuk setiap ciri yang muncul
6).Data yang diperoleh kemudian dianalisis
dengan menggunakan rekontruksi
kromosom tubuh dan kromosom kelamin.
·
Hasil pengamatan
P1 AA >< aa F1 Aa >< Aa
Aa, Aa, Aa, Aa AA,
Aa, Aa, aa
Padapersilanganmonohibridisasi,
antara yang homozigotdominandan yang monozigotresesif, fenotippada F1 adalahsepertidominan,
pada F2 ratio fenotip Antara yang dominandan yang resesifadalah 3 :
1, sedangkan ratio genotifadalah 1 : 2 : 1
· Analisa Hasil
Pengamatan
·
Pembahasan
Corembia
(2003) menjelaskan bahwa dalam penelitian yang telah dilakukan oleh J.G.
Mendel dengan menggunakan ercis,
diperoleh kesimpulan bahwa pada individu-individu heterozigot, satu alel
dominan sedangkan yang lainnya resesif. Dari kenyataan bahwa ciri-ciri induk
muncul kembali pada keturunan tanaman ercis yang tumbuh dari biji heterozigot,
J.G. Mendel menyimpulkan bahwa: kedua faktor untuk tiap ciri tidak bergabung
(tidak bercampur) dalam cara apapun; kedua faktor itu tetap berdiri sendiri
selama hidupnya individu dan tidak memisah pada waktu pembentukan gamet-gamet.
Dalam hubungan ini separuh gamet membawahi satu faktor, sedangkan separuhnya
yang lain menbawahi faktor yang lainnya. Kesimpulan terakhir yang dikenal
sebagai Hukum Pemisahan Mendel.
Pembelahan
reduksi tiap gen pada suatu kromosom akan memisah dari alela pasangannya pada
kromosom homolog secara bebas terjadi selama meiosis. Yang melakukan pemisahan
bebas adalah kromosom-kromosom dalam tiap pasangan gen yang telah terpisah itu
kemudian akan terkandung dalam gamet yang berbeda. Kenyataan yang semacam itu
pertama kali ditemukan oleh J.G. Mendel, dan itulah yang berkenaan dengan Hukum Mendel l atau Hukum Pemisahan Bebas
ataupun Hukum Segregasi Bebas.
Cara
yang paling mudah untuk memperlihatkan kenyataan termaksud adalah dengan
melakukan persilangan satu ciri beda atau yang disebut Monohibridisasi. Dalam
hal ini satu ciri beda itu digunakan sebagai penanda (marker) kromosom, apakah
mengalami atau tidak mengalami pemisahan bebas. Lalat buah yang sering
digunakan dalam percobaan-percobaan dibidang genetika adalah Drosophila Melanogaster.
·
Kesimpulan
·
Dalam persilangan individu N dengan Se maka diperoleh
F1 yakni individu N mendominasi dengan persentase 100% heterozigot
·
Persilangan hasil dari F1 jantan dengan betina maka
diperoleh individu baru dengan perbandingan 3:1
DAFTAR
PUSTAKA
Study Kenal Lingkungan.Praktikum
“PENGGUNAAN Drosophila Melanogaster DALAM PRAKTIKUM
GENETIKA”
LAMPIRAN
LAPORAN
HASIL PRAKTIKUM
A.Judul
TRANSPORTASI PADA TUMBUHAN
·
Tujuan
praktikum
Untuk mengetahui proses transportasi pada tumbuhan dari
bawah ke atas.
· Waktu dan tempat
praktikum
praktikum
dilaksanakan pada tanggal 09 januari 2014
dan
dilaksanakan di Lab.Fisiologi UM
·Alat dan Bahan:
-
Mikroskop
-
Cover Glass
-
Objek Glass
-
Pipet Tetes
-
Silet Tatra
-
Gelas Erlemeyer
-
Larutan safranin
-
Tanaman Pacar Air
· Proses dan Cara kerja:
1. Batang tanaman pacar air dipotong secara fariasi dan
dipisahkan dengan akarnya.
2. Batang pacar air yang sudah dipotong dimasukkan kedalam
gelas erlemeyer yang sudah berisi air dan dicampur larutan safranin
3. Batang pacar air di diamkan selama 15 menit
4. Batang pacar air di sayat dengan menggunakan silet secara
melintang setipis mungkin.
5. Meletakkan potongan batang pacar air pada objek glass
6. Meneteskan potongan batang pacar air dengan air
menggunakan pipet secukupnya
7. Tutup dengan menggunakan Cover Glass
8. Letakkan objek pada Mikroskop
9. Mengatur arah cahaya dan mengamati hasilnya.
Hasil pengamatan
Tanaman yang memiliki akar dan daun akan lebih cepat
mengalami proses transportasi daripada tanaman yang tidak memiliki akar dan
daun ataupun tanaman yang hanya memiliki daun saja maupun sebaliknya, karena al
itu akan mempengaruhi daya serap tanaman pada air.
· Analisa Hasil
Pengamatan
Hasil
pengamatan menunjukkan sampel yang memiliki akar dan daun. Batangnya lebih
cepat berwarna merah daripada sampel yang hanya memiliki akar atau hanya
memiliki daun. Karna jika ada akarnya air dan mineral terangkut ke atas karena
adanya tekanan akar. Ini terjadi karena perbedaan konsentrasi air di dalam air
tanah dengan cairan pada saluran xilem, konsentrasi air di dalam tanah tinggi
sehingga dapat melakukan osmosis ke dalam sel yang menimbulkan tekanan turgor.
Sedangkan pada daun, naiknya air ke atas di sebabkan tarikan dari atas yaitu
daun yang melakukan transpirasi ( penguapan ). Transpirasi di daun
mengakibatkan konsentrasi molekul air di daun berkurang. Kekurangan itu akan
segera diisi oleh molekul air bawahnya. Dengan demikian terjadi gerakan molekul
air dari akar ke daun.
· Pembahasan
·
Kesimpulan
· Proses
transportasi akan lebih cepat jika tanaman memiliki akar dan daun
· Dalam
proses transportasi pada tumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor dari dalam
maupun dari luar
DAFTAR
PUSTAKA
Study
Kenal Lingkungan.Praktikum
“TRANSPORTASI
PADA TUMBUHAN”
LAMPIRAN
LAPORAN
HASIL PRAKTIKUM
UJI
KUALITAS MIKROBIOLOGI BAHAN BERDASARKAN ANGKA LEMPENG TOTAL KOLONI BAKTERI
·
Tujuan
praktikum
Mengetahui
cara menghitung total koloni angka lempeng total bakteri dalam tiap ml atau
gram sampel makanan
· Waktu dan tempat
praktikum
praktikum dilaksanakan pada tanggal 09
januari 2014
dan dilaksanakan di Lab. Mikrobiologi
·Alat dan Bahan:
- Cawan Petri
-Pepton 9 ml
-Pinset
-Tabung Reaksi
-Tabung Elemeyer
-Gelas ukur 1 ml
-Pipet
· Proses dan Cara kerja:
1.
menyiapkan bahan makanan yang akan di
hitung jumlah bakteri nya misalnya kue kukus
2.
Menyediakan 6 tabung reaksi masing-masing
berisi 9 ml akuades steril, meletakkan secara berurutan dan beri tanda 1 s/d 6.
3.
Membuat pengenceran dari sampel yang
akan diperiksa mulai dari pengenceran 10-1,10-2,10-3,…
sampel dengan pengenceran 10-6 dengan
cara memasukkan 1 ml sampel ke dalam tabung reaksi pertama kemudian kocok
sampai homogeny, konsentrasi larutan menjadi 10-1, kemudian mempipet
1 ml larutan dari tabung pertama masukkan ke tabung kedua dan kocok sampai
homogeny, konsentrasi larutan menjadi 10-2 demikian seterusnya
sampai tabung ke enam.
4.
Menyediakan dua cawan petri steril,
meletakkan berurutan dan beri tanda 10-4, 10-5 dengan
spidol/label.
5.
menggunakan pipet steril dan memasukkan
ke dalam cawan petri steril yang sudah diberi tanda.
6.
Masukkan bahan kue kukus yang telah
diencerkan tadi.
7.
Menginkubasikan pada suhu 220C –
370C selama 24 – 48 jam di dalam
incubator.
8.
meletakkan Cawan petri, diBiakan mikroba
tersebut di atas alat Colony Counter
9.
kemudian menghitung jumlah koloni
bakteri dengan menekan pulpen di atas koloni pada cawan petri.
·
Hasil pengamatan
Jumlah bakteri
|
Jumlah bakteri
|
jumlah koloni
|
10-4
|
20
|
20 x 104 sel
bakteri/ml
|
10-5
|
85
|
85 x 105 sel
bakteri/ml
|
· Analisa dan
pembahasan
Metode
hitungan cawan dilakukan dengan mengencerkan sampel suspensi bakteri ke dalam
kue kukus. Pengenceran dilakukan agar setelah inkubasi, koloni yang terbentuk
pada cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung. Dimana jumlah terbaik
adalah antara 30 sampai 300 sel mikroba per ml, per gram atau per cm permukaan.
Prinsip pengenceran adalah menurunkan jumlah sehingga semakin banyak jumlah
pengenceran yang dilakukan, semakin sedikit jumlah mikroba, dimana suatu saat
didapat hanya satu mikroba pada satu tabung.
Larutan yang digunakan untuk pengenceran
harus memiliki sifat osmotik yang sama dengan keadaan lingkungan asal mikroba
untuk menghindari rusaknya sel, selain itu juga dijaga agar tidak terjadi
perbanyakan sel selama pengenceran. Pengenceran yang dilakukan dalam percobaan
ini adalah pengenceran decimal yaitu 10-1, 10-2, 10-3,
10-4, 10-5 dan 10-6. Dan yang diplating dan
diamati adalah pengenceran 10-4 dan10-5. Hal ini karena
diperkirakan koloni yang dibentuk oleh sampel bakteri berada pada jumlah yang
dapat dihitung pada pengenceran tersebut. Selain itu, untuk perhitungan jumlah
koloni akan lebih mudah dan cepat jika pengenceran dilakukan secara desimal.
Selanjutnya dari tabung ke lima dan ke enam dituang ke dalam cawan petri
(penanaman atau plating) dengan media KNA secara aseptik. Plating atau
penanaman bakteri adalah proses pemindahan bakteri dari medium lama ke medium
baru. Pada penanaman bakteri dibutuhkan kondisi aseptik atau steril, baik pada
alat maupun proses, untuk menghindari kontaminasi, yaitu masuknya mikroba yang
tidak diinginkan.
Media KNA digunakan karena media KNA
merupakan media yang paling cocok untuk kultur bakteri. Selanjutnya cawan petri
diinkubasikan selama 2 x 24 jam pada suhu 37 ÂșC. inkubasi dilakukan selama 2 x
24 jam karena jumlah mikroba maksimal yang dapat dihitung langsung oleh mata.
Berdasarkan hasil pengamatan kelompok
p12 dapat disimpulkan bahwa semakin tingki tinggkat pengenceran yang dilakukan
maka semakin sedikit mikroba yang dapat dihitung. Hal ini dapat dibuktikan
dengan hasil pengamatan pada cawan petri hasil keempat yang menghasilkan 20
koloni bakteri sedangkan pada cawan petri hasil pengenceran yang kelima
terdapat 85 koloni bakteri.
·
Kesimpulan
Penghitungan bakteri menggunakan metode
pengenceran atau cawan tuang dilakukan untuk memudahkan dalam menghitung bakteri.
Prinsip pengenceran adalah menurunkan jumlah sehingga semakin banyak jumlah
pengenceran yang dilakukan, semakin sedikit jumlah mikroba, dimana suatu saat
didapat hanya satu mikroba pada satu tabung.
DAFTAR
PUSTAKA
Study Kenal Lingkungan.Praktikum
"UJI
KUALITAS MIKROBIOLOGI BAHAN BERDASARKAN ANGKA LEMPENG TOTAL KOLONI
BAKTERI"
Menghitung Bakteri dengan Metode
Pengenceran-Cawan Tuang.
LAMPIRAN